Pengalaman 13 Hari Dirawat di Rumah Sakit Karena Penyakit Typhus

11.26

Health is not valued until sickness comes. 

-Thomas Fuller



Gambar: Pinterest


Penghujung tahun 2017 adalah waktu paling sulit untuk saya. Sejak awal Desember, saya merasakan ada yang salah dengan tubuh saya. Rasanya lebih mudah lelah, demam pada malam hari, mual, dan batuk. Saya kira hanya gejala flu saja, jadi saya meminum obat flu yang dijual bebas beserta vitamin.

Semua Bermula dari...


Jumat, 8 Desember 2017, agenda saya di kantor cukup padat. Hari itu diakhiri dengan menghadiri anniversary sebuah tempat makan di kawasan Menteng. Di sana, badan sudah tidak karuan rasanya. Setelah itu, saya bergegas pulang karena sudah tak kuat lagi menahan sakit kepala dan mualnya. Karena terbayang macet, saya memutuskan untuk naik ojek lalu lanjut kereta via Stasiun Gondangdia. Semua berjalan mulus, kendati saya menggigil di dalam kereta, sampai Stasiun Pondok Cina Depok.

Baca juga: Dian Sastro Kapok Diet Ekstrim

Tiba di Depok, hujan deras! Untuk sampai di pangkalan ojek daring, perlu berjalan kaki sampai ujung gang stasiun. Lagi-lagi karena saya tidak kuat lagi menunggu lama di stasiun, saya terobos hujannya agar cepat sampai rumah. Sesampainya di rumah, saya langsung tidur.

Akhirnya, Tumbang Tak Terhindari


Sekitar pukul 11 malam, saya terbangun di rumah sakit dengan tangan sudah diinfus. Berdasarkan cerita mama, badan saya panas tinggi dan saya mengigau, tanda demamnya sudah terlampau tinggi. Karena demam sudah berjalan lebih dari 4 hari, dokter melakukan tes widal dan saya dinyatakan terkena typhus atau demam tifoid.

Ditulis di Alodokter, typhus atau demam tifoid, atau kita biasa memanggilnya tipes, disebabkan oleh bakteri yang bernama Salmonella Typhi. Menularnya lewat makanan yang terkontaminasi. Kata dokter, keadaan usus saat typhus seperti sedang sariawan. Jadi kalau sudah timbul gejala dan kita membiarkannya serta tetap makan pedas, asam, dan makanan tercemar akan memperparah keadaan. Alasan ini pula yang membuat orang typhus disarankan untuk makan makanan bertekstur lunak.

Baca juga: Catatan Akhir Tahun dan Review Buku 'Hidup Sederhana' Desi Anwar

Sampai hari ke-4, semua perawatan dilakukan oleh dokter spesialis penyakit dalam. Saya hanya mengonsumsi satu obat makan, sebuah obat racikan yang sepertinya mengandung paracetamol. Sisanya obat suntik yang menurut suster berfungsi untuk menetralkan asam lambung.

Hari itu pula saya diperbolehkan pulang. Sayangnya, saya hanya bertahan satu hari saja di rumah. Hari ke-5 malam, kepala saya sakit bukan main. Sakit kepala ini berhasil membuat saya menangis! Akhirnya saya dilarikan ke rumah sakit terdekat, dan direkomendasikan untuk rawat inap lagi.

Dokter sedang menjelaskan hasil CT Scan.
Sakit kepala itu tidak hilang sampai 3 hari. Karena hal ini, dokter menyarankan saya untuk tes darah lagi sekaligus CT Scan untuk mencari penyebab sakit kepala. Tes darah menunjukkan kalau bakteri penyebab typhus sudah tidak ada, tapi hasil CT Scan menunjukkan ada perdarahan di kepala. Entah, saya tidak mendengarkan penjelasannya lebih lanjut. Dokter syaraf menjadi personil tambahan dalam hal ini dan jadilah saya mengonsumsi banyak obat-obatan tambahan. Plus, asam urat saya katanya sudah di angka 10 mg/dL. Konon, berdasarkan standar WHO, kadar asam urat pada laki-laki batasnya adalah 7,5 mg/dL!

Selama Masa Rawat Inap


Makanan di rumah sakit itu rasanya benar-benar gak jelas. Soalnya, terkena penyakit typhus berarti harus siap makan makanan lunak. Lauk yang saya makan semua tawar tanpa bumbu, makanan berkuahnya juga. Ini yang bikin saya berhari-hari cuma makan pisang saja setiap tiga jam. Belum lagi asam urat yang membuat saya harus menghindari sayuran hijau dan makanan lain yang mengandung kadar purin tinggi, misalnya daging merah dan makanan laut.

Yang membuat saya terkejut adalah kemampuan saya minum air mineral, karena bisa sampai tiga botol besar perharinya. Tujuannya adalah menjaga kekentalan darah dan suhu tubuh. Oh iya, demam terus berlanjut dan biasanya terjadi pada sore menjelang malam. Pada saat yang bersamaan, sakit kepala itu menyerang hingga pagi hari.

Gejala batuk yang hadir sebelumnya pun hadir kembali. Dokter memberikan rekomendasi untuk menjalani terapi uap setiap hari.

Foto saya sedang diuap. Seorang teman mengambil fotonya kemudian diunggah di instastory.

Banyak orang yang datang menjenguk. Awalnya saya tidak memberi kabar kepada banyak orang kecuali atasan di kantor dan beberapa teman dekat. Alasannya klise, saya merasa tidak dalam keadaan tampilan prima paripurna saat terbaring di ranjang rumah sakit. Memang dasar era media sosial, foto di atas diunggah di instastory dan beberapa kawan bertanya tentang kabar ini. Jadilah mereka menjenguk. Tapi, percaya tidak percaya, dukungan dari keluarga dan teman-teman memberikan semangat untuk sembuh.

Baca juga: Rumah Petak dan Bubur Ayam: Tentang Syukur

Tanggal 21 Desember, saya diperbolehkan pulang. Kali ini saya bertekad untuk sehat. Saat dalam masa penyembuhan, saya sudah diberikan gambaran. Gejala-gejala sebelum typhus akan tetap datang, jadi akan banyak kemungkinan kita merasakan mual, pusing, dan lemas. Benar adanya, saat berdiri seringkali saya mengalami vertigo. Sampai hari ini, saya masih sering merasakan mual, lemas, dan pusing. 

Masa Pemulihan


Saat di rumah, muncul banyak sariawan di bibir saya. Rasanya seperti pertama kali pakai kawat gigi. Walau saya minum banyak air setiap harinya, bibir saya ternyata terlalu kering. Jadi, saat pemulihan, gunakan lip balm agar bibir tidak kering ya. Saya pakai Utama Spice varian Tangerine. Sangat melembapkan, bibir pecah-pecah saya hilang dalam dua hari saja.

Gambar: www.utamaspicebali.com

Pasca kepulangan, saya masih harus kontrol beberapa kali lagi. Saat kontrol saya hanya disarankan dua hal; makan yang rakus dan tidur yang cukup. Tidak ada larangan untuk berkegiatan. Makanan juga sudah boleh disajikan dengan lebih banyak variasi. Mengenai saya yang kerap bangun saat pukul tiga pagi, menurut dokter tidak masalah, saya disarankan untuk membaca buku. Namun demikian, obat-obatan harus tetap dikonsumsi, ditambah dengan pil curcuma yang dapat menambah nafsu makan saya.

Akibat tak nafsu makan, berat badan saya turun drastis. Dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, saya kehilangan delapan kilogram! Saat masuk rumah sakit, berat saya 82 kg, sekarang bobot saya sekitar 74-75 kg. Blessing in disguise. 

Setelah merasakan derita selama kurang lebih satu bulan karena penyakit typhus ini, saya jadi takut makan yang terlalu pedas, asam, atau jajan sembarangan. Mungkin saya akan mengurangi hal-hal tersebut. Dan, jangan sampai kita bekerja terlalu berat sampai lupa istirahat. Berikan tubuh waktu yang cukup untuk rehat.

Semoga tahun ini kita bisa lebih sehat dan dijauhkan dari segala penyakit. Resolusi saya sama sekali tak berubah dari 2017. Baca di sini yuk! Untuk yang sedang sakit, cepat sembuh! :)

5 komentar:

  1. hikmahnya adalah selalu menjaga kesehatan. Lalu makan sehat dan bersih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Kadang kita lupa kalau ini badan manusia bukan robot :)

      BTW thank you sudah visit.

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.