Bincang Karir Jurnalistik dan Hobi Pelesir Bersama Shintya Felicitas


Shintya Felicitas. | Foto: Prana Edka Endhito

"Saya akan menulis kapan pun dan di mana pun", ungkap Shintya membuka percakapan kami sore itu. Sebuah ungkapan mengenai hasrat untuk menulis dan semangatnya untuk terus berkembang dalam dunia jurnalistik. 

Sore itu di sebuah kedai kopi di Cikini, saya dan Shintya bertemu untuk sekadar berbincang setelah sekian lama tak bersua. Shintya adalah teman saya sejak 2011 lalu. Kami dipertemukan dalam sebuah lokakarya untuk anak muda yang bertemakan Hak Asasi Manusia. Tak disangka, banyak persamaan yang ada pada diri kami, salah satunya adalah menulis. Dia juga yang memberikan informasi mengenai lowongan pekerjaan di kantor saya saat ini. Tak cukup rasanya berterima kasih saja untuk jasanya saat itu. 


Shintya yang kini menulis tentang bisnis dan finansial di Forbes Indonesia merasa terberkati dengan pekerjaannya. Banyak wawasan dan koneksi yang terbangun dari situ. Sebagai perempuan berusia 25 tahun, pijakan kariernya saat ini cukup terbilang sukses. Terbukti dengan statusnya sebagai penulis termuda di media tempatnya bekerja.

Jarang ada cerita bernada keluhan keluar dari mulutnya. Keluhan, menurut seorang Shintya, akan menghabiskan energi positif yang kita miliki. Lebih baik diam dan melepaskannya sedikit demi sedikit ketimbang meledakkannya dalam satu waktu.

Di Meja Redaksi

Ungkapan awal tulisan ini menunjukkan betapa Shintya mencintai dunia menulis dan jurnalistik. Perjalanan karier jurnalistik Shintya dimulai jauh sebelum lulus dari Universitas Indonesia. Selain tergabung dalam UKM pers di kampusnya, dia menjalankan beberapa pekerjaan paruh waktu di Jurnal Perempuan dan sebuah biro iklan digital. Sebelum berlabuh di Forbes Indonesia, Shintya menjabat sebagai editor sebuah media Rusia bernama Russia Beyond.

Menulis adalah kegiatan yang membebaskan bagi Shintya. | Foto: Prana Edka Endhito

Untuk sampai di Forbes Indonesia, Shintya tidak melalui jalan yang mudah. Beberapa kali ia ditawari pekerjaan selama menunggu kabar dari media tersebut. Karena keinginannya untuk terlibat dalam jurnalisme positif, Shintya tak bergeming. Dan memang sebuah berkat bagi orang yang bersabar, akhirnya tiba waktu yang dinantikan, dia diterima di media yang beroperasi di bawah naungan Mayapada Group tersebut. 


Sebagai seorang jurnalis, Shintya memaparkan proses olah berita yang ada di meja redaksi. Dengan fasih dia menjelaskan pekerjaan terberatnya dalam menulis, yakni meriset topik yang akan dibawa ke rapat redaksi bulanan. Dari paparannya, saya menyimpulkan bahwa seorang jurnalis yang menulis bisnis perlu memiliki pengetahuan dalam menghitung valuasi perusahaan, wajib membuka telinga lebar-lebar tentang industri yang sedang digandrungi saat ini, dan mempertajam kepiawaian analisis harga saham.

Mewawancarai Kris Wiluan, pengusaha yang masuk dalam 40 orang terkaya Indonesia versi Forbes Indonesia. | Foto: Dok. Shintya Felicitas


Profesi yang ditekuni Shintya adalah profesi yang menantang. Para jurnalis berkejaran dengan waktu untuk memenuhi tenggatnya. Narasumber yang dibidiknya mau tak mau harus dikejar agar argumentasinya dalam tulisan menjadi valid. Sederet nama sudah diwawancara, mulai dari pengusaha minyak, penguasa media, hingga petinggi Facebook untuk pasar tanah air. Salah satu tulisan Shintya tentang fintech bisa dibaca di sini dan di sini untuk tulisannya yang menjadi cover story Forbes Magazine International.


Tak jarang pula Shintya hadir di berbagai perhelatan yang diprakarsai oleh merk-merk ternama. Sebagai jurnalis, dia diwajibkan untuk bersikap ramah kepada setiap undangan dalam acara yang dihadirinya. Beberapa cerita lucu mengenai perlakuan humas kepada awak media sempat dilontarkannya. Namun, semua itu dianggapnya sebagai tuntutan pekerjaan saja. Shintya dengan tegas memisahkan relasi profesional dengan kehidupan personalnya.

Tentang Hidup

Selama berteman dengan Shintya, yang saya tahu dia adalah seorang petualang. Berlibur baginya adalah sebuah pembebasan. Berlibur sendiri adalah waktu untuk menikmati hidup dengan dirinya sendiri, tanpa harus memikirkan perasaan orang lain. Dia juga tak peduli jika tak dapat koneksi internet selama liburan, karena baginya tidak wajib untuk mengunggah swafoto ke media sosial. Mungkin jika diterjemahkan ke dalam kutipan masa kini, motto liburan Shintya adalah 'live in the presence'.

Foto: Prana Edka Endhito

Hidup di Jerman selama beberapa tahun, mendaki Himalaya, dan menyaksikan kuatnya patriarki di India sudah pernah dicobanya. Pengalaman unik senantiasa dibagi saat kami bertemu. Bukan cerita liburan mewah yang saya dapat darinya, tapi pengalaman berharga yang mungkin tidak bisa saya dapat jika saya pergi ke tempat yang sama. Yang saya senangi dari cerita liburannya adalah tentang orang-orang yang ia temui, sengaja atau tidak sengaja, di destinasi liburannya. Saya yakin dari pengalaman itulah Shintya mengasah kemampuan bersosialisasi.


Salah satu cerita yang paling membuat saya terperangah adalah saat dia bertekad untuk meditasi selama sepuluh hari di Bogor. Dalam proses meditasi, seluruh peserta dilarang untuk menggunakan telepon, bergerak terlalu banyak, bahkan berbicara! Dalam ceritanya, Shintya mengungkap kesakitan dan kemarahan di awal proses hingga akhirnya ia mendapat makna yang mengubah hidupnya. 

"Semakin dilayani, semakin lama rasa itu akan menguasai".

Dari meditasi Shintya belajar bahwa kita sebagai manusia perlu melepaskan keterikatan dengan semua hal. Jiwa, barang mewah, dan status hanya titipan yang bisa hilang kapan pun. Melepas keterikatan dengan semua yang kita miliki membuatnya hidup lebih ringan dan berani menerima tantangan. Meditasi tersebut juga membuatnya sadar bahwa rasa marah dan sakit hanya sebuah proses singkat yang tak patut menerima ruang lebih dalam hidup. Semakin dilayani, semakin lama rasa itu akan menguasai.

Untuk destinasi liburan selanjutnya, Shintya sedang merencanakan perjalanannya ke Amerika Selatan. Menjelajah kontinen baru diyakininya akan memperkaya ruang imajinasi.

Masa Depan: Bisnis Pariwisata

Hobi pelesir Shintya menimbulkan ide untuk masa depannya. Bukan hanya bersantai, liburan lintas benua menjadi ajang meriset untuk bisnisnya kelak. Sebuah bisnis hostel kecil dengan pelayanan baik menjadi tujuan jangka panjangnya.

Ide ini sedikit banyak dipengaruhi oleh pengalamannya berlibur di Myanmar. Ada sebuah hostel yang menjadi kegemaran turis asing di sana. Harga terjangkau, pelayanan baik, dan interior unik menginspirasinya untuk membangun bisnis dengan konsep serupa. 

Menjadi pengusaha adalah sebuah tujuan hidup bagi Shintya. Dia ingin membuka usaha agar kelak dia bisa menikmati hari tuanya dengan hasil usaha yang sudah dirintis. 

Lalu apakah Shintya akan berhenti menulis dalam waktu dekat? Nampaknya tidak. Dia punya banyak cara untuk menumpahkan pikirannya ke dalam tulisan. Jiwanya tidak bisa lepas dari bidang yang sudah ditekuninya sebagai profesi selama empat tahun terakhir. Seperti ungkapannya, bahwa Shintya bisa menulis kapan pun dan di mana pun.

Saya dan Shintya. | Foto: Prana Edka Endhito



***

Kontributor foto: Prana Edka Enditho (@endhitopictures). Hubungi Endhito melalui surel ke pradkendht@gmail.com.

***

Lokasi foto dan wawancara: Dua Nyonya Restaurant, Cikini, Jakarta Pusat.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.