5 Alasan Mengapa Saya Bekerja di Startup Bernama Foody Indonesia

15.21

"Even if I'm completely unsure, I'll pretend I know exactly what I'm talking about and make decision."

-Anna Wintour

Saya, Hendi, Toshiko, Irma, and Dhika.

Begitu kata Anna Wintour mengenai cara kerjanya. Menurut saya, begitu pula yang kami lakukan di Foody. Kami di Foody Indonesia adalah sekelompok orang dengan kegembiraan dan keinginan untuk berkembang yang mencoba yakin pada setiap keputusan yang kami ambil. Sounds risky?

Foody adalah sebuah startup company* asal Vietnam yang berfokus pada direktori kuliner. Pada 2015 lalu, Foody memperluas jangkauan bisnisnya ke Indonesia. Di Vietnam, Foody sudah ekspansi unit bisnis ke bidang food delivery dan self order di gerai yang bekerja sama.

Perjalanan saya di Foody berawal bulan November 2016 lalu. Kala itu, saya memutuskan untuk keluar dari sebuah perusahaan penyelenggara event ternama di Jakarta. Singkat cerita, kali ini saya tidak ingin lagi bekerja di bawah tekanan dari orang lain secara personal. Perusahaan startup menjadi pilihan saya untuk berkarir. Dalam benak saya, perusahaan startup memiliki kultur yang dinamis dan penuh perubahan. Selayaknya generasi millennial** lainnya, ada perasaan ingin memberikan kontribusi pada sebuah organisasi yang berorientasi bisnis.




Lalu, apakah hanya itu? Tentu saja tidak. Ada banyak hal lain yang perlu kita diskusikan saya beritahu di sini. Ini dia 5 alasan mengapa saya bekerja di startup company bernama Foody Indonesia.

Saya Dibayar Untuk Makan



Ya, percaya tidak percaya, bekerja di perusahaan yang berfokus pada bidang kuliner mengharuskan kamu untuk makan dan SUKA MAKAN. Pada interview pertama saya, hal pertama yang ditanyakan adalah 'apakah kamu suka makan?' Now you know it. Setiap harinya, saya dan tim memiliki setumpuk daftar restoran yang harus kami coba. Selain itu, ada juga undangan dari restoran untuk diulas di website kami, www.foody.id. Mampir ya kalau sempat, ada banyak kebahagiaan di sana.

Tapi, ada kalanya kami butuh waktu sejenak untuk bernafas dan bebas dari makanan kekinian dan mengudap kue klepon saja di sore hari. Menghabiskan 12 porsi makanan bersama satu kolega saja adalah sebuah berkah yang terlalu banyak. Tapi ya disyukuri saja.

Banyak Pelajaran Mengenai Kerja Keras, Inisiatif, dan Rasa Kepemilikan


Bekerja di startup company bukan hal yang mudah. Kamu harus bekerja lebih keras dari biasanya agar bisa bertahan. Saya belum sampai pada tahap kerja keras seperti orang Jepang, tapi saya sangat berharap agar bisa bekerja sekeras mereka --tanpa perlu melupakan kehidupan pribadi.

Tidak akan ada yang memberikan kepastian mengenai nasibmu, cara kerjamu, dan hasil yang akan kamu dapatkan dari kerja kerasmu selain diri sendiri. Biasanya, saya memulai dengan inisiatif kecil seperti diskusi mengenai rencana pendek dengan tim. Dari situ, kita bisa tahu bagaimana cara orang lain bekerja dan saling menyemangati satu sama lain. Bagi saya, menjadi pekerja yang egois bukan solusi yang baik.

Bekerja keras dalam tim (harusnya) menumbuhkan rasa kepemilikan. We are growing a baby and expecting it to be a well established business in the future. Kompetitormu mungkin terlihat lebih keren, but who knows about how people think about them? Memiliki rasa bangga dengan apa yang sedang kamu kerjakan bisa jadi salah satu kunci untukmu bekerja lebih keras. Dengan demikian, kamu tak akan takut dengan kompetitor. Bukannya takut, kamu justru semakin terpacu untuk meningkatkan kualitas kerjamu. Mau tahu caranya? Jangan sering-sering mengeluh. Sebarkan semangat agar orang di sekitarmu juga ikut semangat bekerja.

Tentang Pengaruh dan Perubahan



Sebagai anak muda yang lahir pada era 90-an, saya merasa butuh untuk memiliki pengaruh dan perubahan pada sebuah organisasi atau perusahaan. Di Foody Indonesia, saya punya kesempatan untuk itu. Saya termasuk orang yang tidak suka dengan birokrasi panjang dan hirarki organisasi yang gemuk. Selayaknya perusahaan startup lainnya, saya bisa menumpahkan ide langsung kepada atasan saya di Foody Indonesia. Awesome, yes? Not really. Ada tanggung jawab besar di balik itu semua. Sembari mengejawantahkan ide, saya juga belajar untuk meningkatkan performa di perusahaan yang sangat rentan dengan perubahan besar. Perubahan besar apa? Saya ceritakan nanti ya.

Bekerja Sesuai dengan Passion Sejatinya adalah Mungkin




Sudah baca bio saya di homepage blog ini? Atau coba lihat ke kanan atas layarmu.

Pada bio tersebut, tertulis bahwa saya memiliki ketertarikan yang besar terhadap dunia komunikasi. Era digital seperti sekarang ini menuntut seseorang untuk terus berpacu dengan perkembangan tren. Dunia komunikasi yang dulu (di bayangan saya) hanya berkutat pada media cetak dan siar, ternyata punya pola pengukuran yang jauh berbeda pada platform digital, walaupun prinsipnya kurang lebih sama saja. Ada konten yang jenisnya ribuan, ada indikator kesuksesan yang beragam, juga keterampilan yang sebelumnya mungkin belum pernah terdengar.

Tapi, semua target bisa dicapai dengan tim yang bisa diajak bekerja keras dan kreatif. Oh iya, tidak lupa pula diselingi dengan ngopi bareng menuju senja. Di post selanjutnya, akan saya perkenalkan dengan mereka, ya.

Bebas Bertanggung Jawab, Tidurlah Jika Lelah

 

Pakai baju terbaik yang kamu suka dan sesuai dengan kepribadianmu. Percayalah, sampai tulisan ini diterbitkan, saya paling menikmati sebuah pekerjaan jika eksekusinya dilakukan tanpa protes terkait hal remeh temeh seperti harus pakai baju jenis A atau berdandan dengan cara B. Tidak ada yang salah dengan aturan semacam itu, tapi sepertinya bukan itu yang dibutuhkan di bidang ini. Lantas, apa yang dibutuhkan?

Selesaikan pekerjaanmu dengan cepat dan tepat.

Jika kami merasa lelah, kami bisa tidur di sebuah ruangan dingin dengan selimut lembut. Lima belas menit atau satu jam terlelap akan mengembalikan kreativitas kami. Biasanya ritual tidur terjadi pasca makan siang atau sore hari. Tidak ingin tidur? Tenang, kami punya stok kopi yang cukup untuk membuat mata terjaga hingga larut.

Itulah 5 alasan mengapa saya bekerja di startup bernama Foody Indonesia. Ada banyak hal menyenangkan lainnya yang mungkin belum saya ceritakan. Ada pula hal-hal menyedihkan yang terjadi. Sabar dulu ya, tulisannya sedang saya buat.

Jadi, sudah siap bekerja di perusahaan macam ini?

___

*Startup company: Perusahaan baru yang pada umumnya bergerak pada bidang teknologi dan informasi. (Tempo)
**Generasi Millennial: Generasi yang mencapai fase kedewasaan pada awal abad ke-21. (Huffington Post)

3 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.