Berkenalan dengan Fine Dining dan 'Industri Etiket'


Foto: www.myfoodfix.com.au


Bekerja di industri food & beverage memberikan banyak pengalaman dan pelajaran untuk saya. Salah satu pengalaman yang saya dapatkan adalah mencicipi makanan di restoran premium berkonsep fine dining. Awalnya saya agak minder karena jarang sekali makan di restoran jenis ini. Namun, setelah dicoba, ada banyak makna yang saya pelajari. Tidak hanya makna dan filosofi, tetapi juga hal-hal berkenaan dengan etiket yang bersifat praktis seperti cara memesan, meminta tempat duduk, dan lain-lain. Tata cara makan di restoran fine dining adalah salah satu pelajaran yang juga saya terima dari EF Adults. EF Adults mencoba memberikan bekal praktik bagi para peserta kelasnya, termasuk etiket sederhana.

 

Penjelasan singkat mengenai fine dining

Fine dining, jika bisa saya jelaskan secara sederhana, adalah sebuah konsep dining dengan kualitas penyajian terbaik dan diiringi atmosfer yang elegan, unik, dan eklektik. Fine dining menawarkan pengalaman, bukan hanya cita rasa. Penyajian setiap porsi makanan, alat makan, dan pengelolaan atmosfer restoran akan diperhatikan hingga detail terkecil. Seluruh elemen akan dihadirkan dalam versi terbaik dengan kualitas nomor wahid. Sebagai tamu di restoran fine dining, kamu bisa berekspektasi mendapatkan rasa makanan dan kualitas pelayanan terbaik dari tim restoran yang sudah ahli pada bidangnya. Selain karena harganya yang mahal, itulah seni dalam bisnis restoran dengan konsep fine dining.

Sudah punya gambaran? Sekarang kita bisa bicara tentang tim di restoran fine dining

Sumber: Pinterest

Memiliki predikat restoran fine dining bukan perkara mudah. Seluruh tim yang bekerja harus memiliki pengalaman dan sertifikasi di bidangnya. Seorang pelayan di restoran fine dining wajib paham betul mengenai menu di restorannya, termasuk daftar wine dan padu padan dengan setiap makanan. Ia harus bisa menjawab pertanyaan kamu mengenai makanan dan minuman yang disajikan. Dia akan melayani tamu sejak tamu tersebut menginjakkan langkah pertamanya ke dalam restoran, memandunya untuk duduk, hingga menjelaskan setiap sajian tanpa catatan.

Lain lagi dengan tanggung jawab chef. Di dalam dapur, seorang chef akan ditantang kreatifitasnya dalam mendesain set menu yang disajikan. Layaknya fashion designer, dia dituntut untuk memiliki kecakapan menginterpretasi sebuah inspirasi menjadi sebuah karya berbentuk makanan dengan kompleksitas rasa yang layak uji dan dinikmati. Di tengah idealismenya, chef juga perlu memperhatikan tren yang sedang marak dalam industri kuliner dan memadukannya dengan menu eksklusif. Itulah mengapa profesi seorang chef adalah profesi yang membutuhkan dedikasi tinggi dan fokus yang jeli. Salah sedikit saja, seorang chef akan membahayakan reputasi restoran tempatnya bekerja.

Kamu bisa baca tulisan saya mengenai Chef Justina Harjanto, Executive Chef di Sofia The Gunawarman, yang menginterpretasi kuliner masa kecil ke dalam menu ciptaannya. Tulisannya ada di sini.

Fine dining dan industri etiket

Tahukah kamu kalau di Tiongkok, fine dining bukan hanya sekadar pengalaman makan? Fine dining masuk ke dalam komponen simbol status sosial yang perlu diperhatikan. Ketika kamu sedang menikmati kudapan, setiap orang akan memperhatikan caramu memegang sendok dan alat makan lainnya. Ya, dengan meningkatnya jumlah orang super kaya, semakin banyak orang yang memperhatikan tata cara sosialisasi macam ini. Dari sinilah tumbuh sebuah industri bernama 'industri etiket'.

Etiket, dalam KBBI daring, berarti tata cara (adat sopan santun, dan sebagainya) dalam masyarakat beradab dalam memelihara hubungan baik antara sesama manusia. Dalam konteks tulisan ini, makna etiket meluas menjadi sebuah simbolisme kelas sosial tertentu. Para pengusaha dengan uang tak berseri sangat memperhatikan reputasinya. Agar tidak terlihat memalukan di depan publik, muncul inisiatif untuk mengikuti kelas yang mengajarkan tata cara bersosialisasi dengan masyarakat kelas atas. Kelas ini bukan kelas yang bisa diikuti oleh semua orang, karena harganya bisa mencapai USD 16.000.

Dalam kelas yang berlangsung selama empat hingga dua belas hari, seseorang akan diajarkan mengenai cara menyebut merk fashion terkenal dunia, percakapan sehari-hari, gaya busana, melipat serbet, menata bunga, dan table manner --yang bersangkutan langsung dengan fine dining.

Baca juga: Diplomasi Mode: Pesan di Balik Fashion Statement yang Dikenakan Ibu Negara

 

Bisnis dalam industri etiket

 "This is my service to the country." -Sara Jane Ho

Adalah Sara Jane Ho, seorang pebisnis asal Hong Kong, yang menuturkan bagaimana industri etiket berkembang di kalangan pengusaha dan aristokrat di Tiongkok dalam sebuah wawancara bersama dengan GQ. Dia memiliki sebuah institusi etiket bernama Institute Sarita yang berpusat di Beijing.

Sebelum menggeluti bisnis ini, perempuan lulusan Harvard Business School ini pernah bekerja sebagai seorang analis di New York. Dia memutuskan untuk pindah ke Swiss dan mengikuti kelas etiket di Institute Villa Pierrefeu. Dari institusi tersebut, Sara meraih gelar International Eqtiquette & Protocol. Setelah lulus, ia mencoba bisnis kelas etiket yang menargetkan perempuan lajang di Beijing.



Institute Sarita kerap difitur oleh berbagai media skala global. Selain GQ, Forbes juga pernah memfitur lembaga ini. Dalam wawancaranya bersama Forbes, Sara Jane yang kerap dijuluki 'Miss Manners' menuturkan bahwa dia memiliki visi untuk menjadikan peserta kelasnya sebagai global citizen. Baginya, etiket tidak perlu berbeda antara dengan timur dan barat, yang terpenting adalah bagaimana terlihat sebagai orang yang berdaya di depan khalayak.

Sara Jane Ho, pendiri Sarita Institute. Foto: www.artspace.com

Bak gayung bersambut, bisnis inovatif Sara disambut baik dan didatangi oleh banyak orang dari dalam dan luar Beijing. Mengutip wawancara BBC dengan salah satu peserta kelas Institute Sarita yang bernama Chelsea Chen, keikutsertaannya dalam kelas etiket merupakan sebuah investasi. Dia berpendapat bahwa ilmu yang didapat sangat mungkin untuk diwariskan kepada keluarga hingga ke generasi berikutnya.

Di lain kesempatan, Sara menegaskan bahwa etiket dapat dipelajari oleh semua orang. Dia tidak membatasi etiket hanya perlu dikuasai oleh orang kaya saja. Lebih jauh lagi, Sara menekankan perspektifnya bahwa etiket bukanlah aksentuasi kekayaan dalam konteks uang, melainkan tanggung jawab untuk mewariskan budaya yang beradab kepada generasi penerusnya.

2 komentar:

  1. Annnnnddddd, FYI, makanya aku suka gercep kalo ada restoran baru dengan branding
    "Affordable Fine Dining", hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya karena menarik banget ya walau aku belum terlalu ngerti sih

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.