Proteksi kanker ternyata bukan cuma lewat gaya hidup sehat


Sebuah obrolan serius menuju usia tiga puluh


Apa yang kamu khawatirkan menusu usia 30? Foto: Unsplash/@theexplorerdad

Sebagai masyarakat yang hidup dengan gaya hidup kurang aktif, saya merasa agak kurang mindful saat sedang menjalani hidup. Bayangkan saja, dari dua puluh empat jam yang saya miliki, sebagian besar dihabiskan untuk duduk. 

Gaya hidup dan potensi penyakit

Rendahnya gerak aktif tubuh membuat kita si malas gerak mudah terserang penyakit. Belum lagi lapar tengah malam yang untuk menebusnya kerap dengan makanan cepat saji. Jika dibuat sebuat kolom tabel, gaya hidup saya memenuhi banyak kriteria pemicu kanker. Sedih sekali saat cari tahu soal ini, tapi akhirnya saya tersadar.


Lalu apa yang saya lakukan saat menyadari hal ini? Tentu saja panik terlebih dahulu. Siapa pula yang tidak panik saat tahu gaya hidupnya bisa memicu kanker? Apalagi gaya hidup saya standar, sama seperti kebanyakan orang Indonesia. Bayangkan beta banyaknya orang yang belum radar akan hal ini. Setelah paniknya selesai, saya mencoba membuat daftar apa yang bisa saya lakukan untuk mencegah sel kanker bermutasi dalam tubuh renta ini. 



Saya mulai rutin olahraga karena takut penyakit. Foto: Unsplash/@PrateekKatyal


Dua hal pertama yang saya lakukan adalah makan sehat dan olahraga rutin. Sudah kurang lebih setengah tahun saya mulai rutin lagi berolahraga. Dulu sempat rutin ke gym, tetapi karena pandemi, gym tutup dan saya cukup paranoid untuk pergi ke tempat dengan sirkulasi udara buruk. Empat bulan terakhir saya mengundang coach muay thai untuk datang ke rumah. Seminggu dua kali badan terasa pegal betul, tapi ada bonus yang membuat saya menikmati olahraga! Bobot tubuh saya berkurang sebanyak enam kilogram. 


Olahraga yang saya lakukan didukung dengan mengurangi makanan cepat saji dan menyeimbangkannya dengan makanan sehat, total 1800 kalori sehari. Tentu konsep ideal ini tidak selalu saya jalankan, siapa yang kuat menahan godaan segelas boba atau sepotong ayam goreng tepung? Biasanya setelah 'berbuat dosa' saya kembali melakukan intermittent fasting beberapa hari. Baca di sini untuk pengalaman saya intermittent fasting.

Menyoal penyakit degeneratif dan kritis

Menuju usia tiga puluh, pembicaraan mengenai penyakit degeneratif juga semakin santer terdengar di tengah lingkar pertemanan saya. Kalau dulu topik obrolan soal gaya busana terkini, sekarang adalah soal investasi dan pengalaman mereka ditinggal orang terkasih karena penyakit degeneratif seperti kanker. Apalagi sekarang ada tambahan penyakit baru seperti COVID-19 yang berhasil membuat orang sedunia panik. Kami semakin awas perkara kesehatan serta strategi pencegahan dan penanganannya.


Namun, yang membuat saya kaget, di tengah obrolan fasih soal hal-hal tersebut, sedikit sekali yang sadar akan asuransi sebagai fasilitas proteksi diri. Saya yang juga awam asuransi membuka obrolan soal bedanya asuransi dan BPJS, karena di pikiran mereka BPJS sama dengan asuransi. Mungkin secara sistem benar begitu, tapi tentu tingkat proteksi yang didapat akan berbeda. Terang saja hanya sekitar 4% masyarakat kita yang punya asuransi, jauh di bawah negara lain di ASEAN yang mencapai 6%. (Sumber)



Obrolan serius sering terjadi menjelang usia tiga puluh. Foto: Unsplash/@KylieLugo


Saat pembicaraan berlangsung, akhirnya terkuak sudah kenapa mereka tidak tertarik berlangganan produk asuransi. Alasannya cuma satu, asuransi itu ribet. Sudahlah ditelepon agen seperti dikejar hutang pinjol, lalu saat berlangganan tidak diberi informasi dan pelayanan yang mumpuni. Informasi jadi sangat penting karena banyak dari kita yang tidak tahu jenis-jenis asuransi. Akhirnya mereka kabur karena kapok dengan layanannya yang minimalis. Saya jadi bertanya, ada nggak sih sebenarnya jenis Asuransi Mudah Beneran?

Kembali lagi ke proteksi kanker, penyakit degeneratif dan kritis

Karena diskusi alot di atas, saya mencoba cari tahu perihal asuransi. Ternyata banyak sekali tipe dan jenisnya. Ada asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi campur investasi, dah oh ternyata ada asuransi penyakit kritis! Yang saya dapat informasinya adalah FWD Insurance, satu dari sedikit Asuransi Kanker Online yang semua prosesnya bisa kita kontrol sendiri melalui kanal digital. Dari laman website-nya, produk yang ditawarkan adalah FWD Cancer Protection.



FWD Cancer Protection, untuk protease penyakit kanker.


Setelah menelaah detail benefit-nya, ternyata ada solusi untuk saya dan teman-teman yang merasa asuransi itu sangatlah ribet. Jika kita mengalami kendala atau ingin bertanya soal produk dan fasilitasnya, ada layanan hotline dan chat yang selalu sedia 24/7. Rasanya ini bisa mengobati trauma ditinggalkan oleh agen asuransi atau customer service yang tidak peduli lagi setelah kita beli produknya.


Kekhawatiran layanan proteksi dan premi tinggi berjuta-juta juga terjawab oleh FWD Cancer Protection. FWD menyediakan fitur pembayaran dengan premi rendah, mulai dari Rp 10.000 dan jaminan 100% proteksi jika kita didiagnosis berbagai jenis kanker.

Proteksi vs. penanggulangan

Oke, sekarang soal sudut pandang. Saya juga mengamati kalau kita cenderung lupa unsur proteksi pada asuransi. Akhirnya yang terpikir adalah mengeluarkan uang untuk hal yang belum tentu terjadi. Padahal, seperti cerita saya di atas bahwa tanpa kita sadari potensi dan risiko selalu ada, apalagi jika gaya hidup kita bukan termasuk yang sangat bersih dan sehat.


Dengan kesadaran risiko yang penuh, tanggung jawab terhadap diri sendiri juga perlu agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan. Lagipula, proteksi diri juga bentuk cinta pada diri sendiri bukan? 


Komentar

  1. Aku baca ini jadi merasa tertampar. Baiklah, 2021 harus hidup lebih sehat lagi pokoknya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer