Taco, Ikon Kuliner Sekaligus Simbol Sejarah


#ZomatoFoodieMeetUp di Amigos, Kuningan, Jakarta Selatan. | Foto: Dok. Zomato Indonesia
Dua minggu lalu, saya beruntung mendapat kesempatan untuk hadir dalam acara #ZomatoIDFoodieMeetUp prakarsa Zomato Indonesia sekaligus berkumpul bersama dengan beberapa rekan pencinta kuliner. Kami berkumpul di sebuah restoran bernama Amigos yang terletak di Bellagio Mall, Kuningan, Jakarta Selatan. 

Pada sesi yang sangat cair itu, tidak hanya para pencinta kuliner, tetapi juga Country Director Zomato Indonesia, Vamsi Reddi, juga si empunya Amigos, Mr. Ron. Ternyata, Mr. Ron juga memiliki gerai pizza tersohor di Jakarta, Papa Rons Pizza. Beliau bercerita banyak, termasuk bagaimana caranya ketika pertama kali membawa Pizza Hut ke Indonesia. Ya, beliau adalah orangnya!

Hampir Tidak Jadi Amigos!


Mr. Ron sedang menceritakan lini usahanya di Indonesia. | Foto: Dok. Zomato Indonesia

Sebelum kita bahas mengenai sajian di Amigos, ada cerita menarik yang diungkapkan oleh Mr. Ron. Dengan santai beliau menceritakan tentang Indonesia era 1979 yang tidak terlalu terbuka dengan nama dan istilah asing. Semua nama gerai restoran dilarang menggunakan bahasa asing. Karena Amigos memang sebuah restoran autentik Meksiko, beliau mencoba melobi dengan cara membuat Amigos menjadi sebuah singkatan. Jadilah Amigos menjadi singkatan dari 'Ajang Makan Minum dan Gosip'. Voila! Nama Amigos bisa digunakan hingga saat ini. 

Dari gaya bicaranya, saya bisa melihat bahwa Mr. Ron adalah orang yang mencintai bisnisnya melebihi fakta bahwa itu adalah bisnis. Beliau memperhatikan segala jenis detail agar suasana Meksiko berhasil tercipta di Amigos. Bayam impor dan kayu untuk interior tak luput dari penglihatannya. Kami dibawa keliling Meksiko selama berada pada perjamuan tersebut.

Spinach Dip. | Foto: Dok. Justian Edwin

Spinach Dip. | Foto: Justian Edwin

Makanan pembuka yang kami coba adalah Spincah Dip. Fokus pada makanan ini adalah saus krim bayam yang digunakan. Penekanannya ada pada bayam impor yang memiliki tekstur jauh berbeda dengan bayam lokal. Tidak terasa seratnya, sehingga meluncur mulus lewat tenggorokan. Campuran krim susu dan mozarella menciptakan konistensi yang nyaman di lidah, tidak berlebihan.

Nachos Fiesta. | Foto: Dok. Justian Edwin
Jika tidak menyukai makanan pembuka bertekstur krim, pilih Nachos Fiesta, kumpulan nachos dengan daging di atasnya.

Quesadillas. | Foto: Dok. Justian Edwin

Burrito. | Foto: Dok. Justian Edwin
Quesadilla dan Burrito hadir menjadi makanan utama. Yang saya tahu, Quesadilla berasal dari kata 'queso' yang berarti keju dalam bahasa Spanyol. Secara teknis, Quesadilla adalah tortilla berisi keju dan beragam isian, seperti daging sapi atau ayam. Makan quesadilla dengan guacamole adalah salah satu favorit saya. Sangat mengenyangkan.

Ketika menu Burrito keluar, saya baru sadar bahwa memang makanan Meksiko paling enak dimakan dengan tangan. Saya singkirkan sendok, pisau, dan garpu di hadapan saya. Burrito di Amigos menggunakan nasi dan daging sebagai isian, menemani isian wajib lainnya seperti saus salsa, selada, dan sour cream. Sejauh ini burrito-lah yang paling membuat perut saya terisi penuh. 

Quesadillas dan saus-saus khas Meksiko. | Foto: Dok. Justian Edwin.
Fajita juga hadir sebagai bagian dari menu utama. Fajita di Amigos menggunakan tenderloin yang dimasak dengan lada hitam, bawang bombay, dan paprika. Disajikan panas-panas, asap yang keluar dari daging panggangnya akan membuat air liur keluar secara otomatis.

Mengingat Taco


Syahdan, saya mengingat-ingat sebuah podcast yang pernah saya dengar di Spotify. Jeffrey M. Pilcher, seorang profesor sejarah di University of Minnesota pernah mengemukakan hasil risetnya selama bertahun-tahun khusus menelaah makanan Meksiko. Pilcher berhasil membukukannya dalam
Planet Taco: A Global History of Mexican Food (Oxford University Press.

Secara spesifik, Pilcher membicarakan mengenai taco. Dalam edisi podcast berdurasi tiga puluh menitan itu, Pilcher dan mahasiswanya melakukan diskusi tentang taco, sejarah, dan percampuran budaya di dalamnya. 

Kuliner Meksiko dan Kehadirannya di Amerika Serikat


"Warga Amerika makan 4,5 miliar taco setiap tahunnya."

Ketika imigran asal Meksiko mulai hadir di Amerika Serikat pada 1905, mereka mulai memperkenalkan makanan Meksiko dan menjadikannya mata pencaharian sementara. Alasan mereka pindah adalah karena Meksiko merupakan negara yang berbahaya. Asosiasi 'bahaya' tersebut dikejawantahkan dalam makanan Meksiko yang dianggap sangat pedas. Karena dijual di pinggir jalan, makanan Meksiko dianggap sebagai makanan kelas dua. Seiring berjalannya waktu, makanan Meksiko, termasuk taco, mulai diadaptasi sesuai dengan ketersediaan bahan di Amerika Serikat.


Foto: Dok. Serious Eats.

Waktu paralel era 1920, Meksiko mulai kedatangan imigran asal Lebanon yang mengadaptasi resep taco dengan kuliner mereka, shawarma. Disebutlah adaptasi tersebut sebagai Arab Taco

Bisnis taco dengan merk dagang Taco Bell dimulai oleh Glen Bell di Amerika Serikat pasca Perang Dunia II, dijual dengan metode franchise. Bell mencoba membuerikan inovasi pada tortilla yang tidak awet dengan menggorengnya terlebih dahulu (disebt dengan taco shell) agar lebih awet dan mudah dikemas.

Yang unik menurut Pilcher, bahwa restoran taco tidak hadir di lingkungan Meksiko di Amerika Serikat, sekitar Los Angeles Timur. Restoran taco yang menggunakan kata 'taco' dibuka di lingkungan non-Mexican, dengan tujuan memasarkan makanan ini kepada orang Amerika dari etnis lain tanpa harus mencobanya langsung di lingkungan imigran Meksiko. 

Sebelum Taco Bell Merajai Pasar

Mitla Cafe di San Bernardino. | Foto: Dok. Mitla Cafe.

Jauh sebelum itu, Glen Bell mendapatkan resep taco-nya dari sebuah kedai makanan Meksiko kecil di San Bernardino. Mitla Cafe namanya, yang ternyata sudah beroperasi sejak 1937. Bell mencoba bertanya kepada mertua Irene Montaño, si pemilik kedai, tentang bagaimana cara membuat taco seperti mereka. Dari sinilah bisnis Glen Bell mulai diinisiasi, yang kemudian go public pada 1970.

Taco di Amigos. | Foto: Dok. Justian Edwin
Sembari mengingat hal-hal di atas, saya dan rekan-rekan dari Zomato menyantap taco dengan adaptasi lain di Amigos. Untuk memuaskan pelanggannya yang mayoritas orang Indonesia, Mr. Ron dan tim menyediakan nasi sebagai pendamping taco-nya! Ternyata hal ini juga dilakukan di Mitla Cafe.

Makanan penutup di Amigos. | Foto: Dok. Justian Edwin
Kami menutup perbincangan seru dengan kue penutup berbahan dasar cokelat dan lemon. Penutup yang baik untuk hari yang manis.

Keseruan para pencinta kuliner membidik makanan sajian Amigos Kuningan. | Foto: Dok. Justian Edwin.
Keseruan para pencinta kuliner membidik makanan sajian Amigos Kuningan. | Foto: Dok. Justian Edwin.

Saya bersama dengan Country Manager Zomato Indonesia.
Referensi
Katy June Friesen. 2012. Where Did The Taco Come From?. Smithsonian
Carolina Miranda. 2012. The California Taco Trail: 'How Mexican Food Conquered America. National Public Radio
Steven Raichlen. 2017. A Brief History of The Taco. Huffington Post Life.

Amigos Bar & Cantina Menu, Reviews, Photos, Location and Info - Zomato

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.