Merayakan Kegagalan.


Ideas About Failure. | Foto: Dok. Ted.com


Kita kerap terjebak dalam sesal akan kegagalan. Beberapa hilang tenggelam dalam sesal akut karena gagal. Beberapa mencoba bangkit dan melupakan kisah gagalnya.
Selama 2018, kegagalan adalah teman baik saya. Dia ada di bahu, mencengkramnya keras-keras. Sakitnya lebih dari nyeri punggung yang sering saya alami belakangan ini. Dari sekian banyak kegagalan yang saya alami, ada beberapa yang saya ingat betul.

Sebelum bicara tentang kegagalan saya yang sepertinya akan berlarut-larut dan sedikit melankolis, sedikit pengantar rasanya perlu saya berikan agar pesan dalam tulisan ini tidak salah interpretasi.


Johannes Haushofer. | Foto:  Dok. letsintern.com

Sekitar 2016 atau 2017, sebuah unggahan di Twitter cukup membuat saya berpikir. Seorang profesor di Princeton University yang bernama Johannes Haushofer, mengunggah CV yang berisi tentang kegagalan yang pernah dia alami (CV yang diunggah bisa dilihat di sini). Pertanyaan yang timbul di benak saya adalah 'lho, kenapa ya?'. Ternyata, alasannya adalah sesederhana pengingat bahwa sukses yang diraih oleh sebagian dari kita, termasuk profesor ini, punya sejarah gagal di belakangnya.


Foto: Dok. www.biginterview.com







Bagi Haushofer, kegagalan kerap menjadi sejarah yang disembunyikan, lantas sukses menjadi sesuatu yang sangat terlihat, dan membuat imajinasi bahwa seluruh usaha yang dilakukannya sukses. Padahal, tidak seindah itu. Mengutip pernyataannya dalam The Guardian, “Most of what I try fails, but these failures are often invisible, while the successes are visible."

“As a result, they are more likely to attribute their own failures to themselves, rather than the fact that the world is stochastic, applications are crapshoots, and selection committees and referees have bad days.”

Keberanian seseorang untuk jujur pada diri sendiri, terlepas dari apa pekerjaannya, adalah usaha yang patut diapresiasi. Jujur pada diri sendiri tidak akan membuatmu larut dalam sedihnya gagal meraih sesuatu yang kamu impikan. Dan Haushofer menginspirasi banyak orang kala itu.

Cukup relevan menarik aksi yang dilakukan Haushover dengan cara kita berperilaku di media sosial. Di era media sosial seperti sekarang, menyajikan citra hidup yang terlihat mulus tanpa pernah gagal jadi sebuah penyakit. Tendensi untuk menilai seseorang hanya dari bagaimana dia terlihat di unggahan media sosialnya yang mungkin terlihat sempurna menjadi cikal bakal gangguan mental. Belum lagi kecenderungan untuk merasa masyarakat di mana kita hidup sangat tidak inklusif. Kita terus dipaksa untuk mengikuti standar orang lain, lalu terserang Fear of Missing Out (FOMO).

Saya mengalami keduanya. Yang pertama, ingin mencoba terlihat menjalani hidup sempurna di media sosial. Tidak pernah terlihat gagal. Bahagia. Yang kedua, sayang sekali bahwa standar hidup sempurna tersebut ditentukan oleh hidup orang lain yang juga merupakan kebenaran parsial. Lalu saya tidak bisa membedakan yang nyata dan maya.

Gagal di Ranah Profesional

Sebagian tim kerja saya.

Sebuah momen yang tidak akan pernah saya lupakan. Agustus 2018, di kereta tujuan Jakarta. Saya dan beberapa anggota tim baru saja menarik napas lega setelah hampir seminggu bekerja di Bandung. Seorang kolega menghubungi, memberi informasi yang cukup mengagetkan. Perusahaan tempat kami bekerja akan berhenti beroperasi dan merger dengan kompetitor.

Kami kehilangan pekerjaan. Kami punya pilihan untuk bergabung dengan perusahaan baru hasil merger, namun nampaknya bukan pilihan yang bijak.

Saya mengerti bahwa ini bukan kegagalan saya dan segelintir orang saja, karena keputusan bukan di tangan kami. Hanya saja, saya merasa gagal menjaga hidup tujuh belas orang yang bekerja dalam tim saya. Saya juga merasa gagal karena belum menjadi seorang mentor yang baik, yang berhasil membentuk mereka jadi lebih kuat karena kapabilitas saya yang masih di bawah standar sempurna.

Beberapa orang lain dalam tim saya.

Tapi saya patut merasa beruntung karena memiliki mereka yang ternyata lebih kuat dari batu. Kami memang hancur, tapi kami menertawakannya. Tidak ada guna pula jika menangis. Kami bisa mengubahnya menjadi sebuah momen selebrasi layaknya lulus sekolah. Kini kami terpisah di berbagai sudut di Indonesia, mencari sumber hidup yang baru.

Ada ego yang terluka.

Hidup harus berlanjut. Serangkaian wawancara kerja saya lewati, lalu gagal. Salah satunya adalah perusahaan impian saya sejak kuliah dulu. Tapi mungkin saya harus menempa diri di kolam yang lain, hingga ada yang sudi menerima saya dengan kemampuan yang belum seberapa ini. Hal yang sama terjadi dengan kawan-kawan yang lain.

Melelahkan, ya?

Gagal Mencintai Diri Sendiri

To love yourself. | Foto: Dok. WikiHow

Kuartal terakhir 2018 seperti sebuah pil pahit. Sudahlah dipaksa berpisah dengan kolega kerja, saya harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Adaptasi berjalan dengan baik, tapi ada rasa yang belum selesai dalam diri saya. Walau semuanya berjalan lancar, saya merasa bersalah karena belum berhasil memberikan performa maksimal. Ada rasa bersalah, ada rindu, ada kesal, ada benci, ada sedih. Lalu saya lewati dengan nafas terengah, mencoba menjalaninya seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

Ternyata, kalimat terakhir adalah cara saya menipu diri sendiri, dan akhirnya menjadi bencana temporer.

Performa kerja saya menjadi tidak konsisten, begitu pula dengan emosi yang tidak bisa ditebak. Yang menyedihkan, ini menjadi cikal bakal terganggunya kondisi fisik. Ada hari di mana saya merasa sangat sakit, namun dokter tidak menemukan gejala serius. Yang saya perhatikan, ada beberapa hal yang terjadi dalam keseharian saya, yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya.

Pada satu malam, saya bertemu dengan seorang sahabat dan menceritakan hal-hal yang saya alami. Saya mencoba mengelaborasi tanpa memberikan kesimpulan atau hipotesis prematur, tapi saya tetap mengutarakan ketakutan bahwa saya mengalami depresi. Lalu dia berkata,"I am part of the people who are depressed. And some people around me, who you might know very well, they are, too." 

Kami diam, menandakan percakapannya sudah berakhir walau menggantung.

Di minggu yang sama, dua orang teman saya bercerita bahwa mereka mengalami depresi. Kesimpulan ini mereka dapatkan setelah fase konsultasi panjang bersama dengan profesional. Fakta yang cukup kelam adalah keinginan untuk bunuh diri. Kondisi darurat.

Karena panik, saya memutuskan untuk berkunjung ke praktisi psikologi untuk konseling. Dari observasi, gejalanya menunjukkan bahwa saya bisa jadi depresi. Belum sampai pada tahapan diagnosis final, tapi sangat mungkin terjadi. Jika ingin tahu, kamu bisa lihat di sini untuk gejala dan beragam tipe depresi. Jika ada dari sebagian dari gejala yang kamu alami, mungkin kamu butuh bantuan. Tapi ingat, jangan mendiagnosis dirimu sendiri. Law of attraction does exist.

Bukan, bukan depresi yang jadi poin utamanya. Tapi menipu diri sendiri bahwa semuanya baik-baik saja yang jadi menjadi pangkal penyakitnya. Saya terlalu malu untuk mengakui bahwa apa yang saya rasakan bukanlah hal yang baik-baik saja. Saya malu untuk bercerita, bahkan kepada orang yang paling saya percaya, bahwa saya kerap menangis sendirian tanpa sebab saat tengah malam tiba. Saya takut dibilang lemah. Saya takut dicap sebagai drama person.

Ternyata, alam bawah sadarmu memberikan respon jika ada hal-hal yang sebenarnya ingin kamu utarakan, tapi terlalu takut untuk melakukannya. Pada saya, saya takut untuk menangis, lalu dia menangis sendiri, tiba-tiba, tanpa sebab.

Kini saya sadar, mencintai diri sendiri itu mutlak perlu. Kamu, tubuhmu, jiwamu, adalah sebuah berkah sekaligus tanggung jawabmu selama kamu hidup. Kamu akan bertahan hidup bersama mereka. Jika kamu malu dan takut untuk mengutarakan yang mereka rasakan, mereka akan mengutarakannya tanpa aba-aba, tanpa persetujuanmu.

Jika kamu punya kecenderungan seperti saya dan malu untuk mencari bantuan, kamu bisa lakukan ini dulu agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan:

1. Perhatikan pola dan interval makan

Ada beberapa penelitian mengenai pengaruh pola makan terhadap kesehatan mental. Salah satu artikel singkatnya ada di sini. Memiliki pola makan yang baik dan penuh nutrisi akan memberikan efek proteksi dan memperbaiki mood.

2. Berolahraga ringan

Kenapa berolahraga ringan? Karena yang saya alami, berolahraga berat dan bersifat kompetitif bisa memperparah kondisimu. Alih-alih mengalami perbaikan pada kondisi perasaanmu, kamu akan merasa semakin tertekan karena ada kompetisi dalam olahraga yang harusnya bersifat rekreasional. Hal ini disarankan oleh seorang kawan yang kebetulan juga seorang psikolog ketika saya merasakan gejala burnout dalam pekerjaan.

3. Bercerita

Ini yang paling penting. Jangan pernah takut dan malu untuk bercerita jika kamu merasa sedih tanpa sebab. Kadang kita bercerita bukan karena memerlukan solusi, melainkan karena butuh seseorang untuk mendengarkan.

4. Mencari Bantuan

Kamu tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah seperti ini sendirian, terlebih jika kamu sudah melakukan caramu sendiri untuk bebas dari perasaaan-perasaan negatif. Ada beberapa alternatif yang bisa saya rekomendasikan, karena saya pernah mencobanya atas rekomendasi beberapa rekan:

  • Konseling melalui aplikasi LINE, @sehatmental.id. Seperti teman, kamu akan mendapat konselor yang akan mendengarkan dan merespon ceritamu.
  • Konseling via aplikasi KALM. Aplikasi ini akan menghubungkan kamu dengan beberapa psikolog yang akan menjadi konselor kamu. Aplikasi ini sifatnya berlangganan, namun kamu mendapatkan kesempatan tujuh hari untuk mencobanya secara gratis.
  • Konsultasi tatap muka di Yayasan Pulih. Konsultasi di Yayasan Pulih akan memberikanmu pengalaman yang lebih nyata, karena kamu akan bercerita secara langsung dengan tenaga profesional yang tergabung di dalamnya. 
  • Aplikasi Halodoc. Yang ini saya belum pernah coba, namun saya pernah melihat beberapa psikiater di dalam daftar dokter yang tergabung. Saya rasa bisa membantu untuk mengetahui pertolongan pertama selain tiga hal yang saya jabarkan di atas. Mungkin ada yang pernah coba?

Pada Akhirnya, Kamu Perlu Mengenal Dirimu Sendiri Lebih Jauh


 
Saya sadar bahwa ternyata saya tanpa sadar larut dalam kegagalan yang saya alami. Tapi lebih jauh dari itu, ternyata saya belum mengenal diri saya sendiri secara menyeluruh. Saya berusaha meyakinkan diri bahwa saya adalah orang yang kuat, padahal ada menit-menit tertentu saat saya merasa tidak bisa menahan sesuatu.

Selama dua kuartal saya baru paham bahwa mengenal diri sendiri adalah langkah pertama untuk tahu di mana tombol warning kita, untuk tahu titik di mana kita perlu beristirahat. Juga untuk melepaskan emosi yang tidak perlu dipendam. Tidak ada yang sempurna, tidak ada yang baik-baik saja. Tapi, ketika dihadapi dengan pikiran jernih, semua akan baik-baik saja.

Ingin marah? Keluarkan. Ingin berkeluh kesah? Nyatakan. Ingin lompat bahagia? Lakukan. Berhenti dulu sejenak. Lalu lanjut berjalan.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.