Napak Tilas Tren Kopitiam: Mulai Populer di Era Rockabilly

01.57

Pernah merasa penasaran mengapa banyak sekali Kopitiam di Indonesia belakangan ini?


Kopitiam, kedai kopi yang populer di Malaysia, Singapura, dan indonesai. | Sumber foto: www.malaysianchinesekitchen.com | Biblical Journal

Dengan berbagai nama brand yang dipilih, kini kopitiam siap bersaing dengan gerai kopi internasional dan kedai kopi bernuansa skandinavia. Persaingan ini menjadi keuntungan bagi para penikmat kopi, karena menyediakan banyak pilihan.

Kopitiam di Indonesia: Dulu dan Kini

Setelah melakukan penelusuran dunia maya, saya banyak mendapatkan informasi mengenai asal muasal kopitiam ini. Sejarah kopitiam dan istilahnya dikupas cukup komprehensif oleh Johanes Herlijanto, seorang peneliti dan dosen dari Universitas Bina Nusantara. Dalam tulisannya, ia mengutip beberapa penelitian mengenai kopitiam. Istilah 'kopitiam' berasal dari perpaduan bahasa melayu 'kopi' dan 'tiam' yang dalam Bahasa Cina berarti kedai. Jadi pada dasarnya, kopitiam tak ubahnya kedai kopi kebanyakan. Hanya saja, dulu pemilik kedai menyewakan sebagian lahan usahanya untuk penjual makanan. Hal ini lumrah dilakukan di Singapura.

Istilah 'kopitiam' berasal dari perpaduan bahasa melayu 'kopi' dan 'tiam' yang dalam Bahasa Cina berarti kedai.

Kopitiam meraih puncak popularitas pada era 50-an, saat yang bersamaan dengan kejayaan tren rockabilly. Bangka Belitung disebut-sebut sebagai salah satu wilayah yang memopulerkan nama kopitiam ini. Di Bangka Belitung, setiap kedai kopi yang dimiliki oleh orang Tionhoa dilabeli kopitiam. Hal berbeda terjadi di Singkawang. Kendati pemilik kedai kopi tersebut berasal dari etnis Tionghoa, mereka enggan menggunakan istilah kopitiam. Alasannya sederhana, agar yang mampir ke kedai mereka bukan hanya oang Tionghoa saja. 

Seiring berjalannya waktu, istilah kopitiam kian akrab di telinga para penikmat kopi. Tidak hanya di Jakarta, tapi di seluruh penjuru negeri. National Geographic Indonesia juga pernah menulis mengenai kopitiam di Singkawang dan Pontianak. Dalam artikel tersebut, disebut menu yang biasa disajikan di kopitiam adalah kopi pahit, kopi manis, kopi susu, es kopi, teh tarik, dan kopi pancung. Yang terakhir disebut adalah minuman kopi yang disajikan dalam cangkir dengan ketinggian hanya setengah dari tinggi cangkir atau gelas sajinya. Kata pancung berasal dari kata  半‘pan’ setengah dan 中‘cung’ tengah. 

Kopi Oey, Salah Satu Pelopor Kopitiam di Indonesia

Salah satu kopitiam yang cukup lama beroperasi di Indonesia adalah Kopi Oey. Kedai kopi ini adalah milik Bondan Winarno. Beliau dikenal dengan jargon 'maknyus'-nya pada sebuah acara kuliner di stasiun televisi swasta.

Saya mencari informasi mengenai kedai kopi ini di laman website-nya. Ternyata, cara membaca namanya adalah kopitiam wi. Kenapa? Karena nama 'Oey' merupakan plesetan dari 'Wi', suku kata pertama pada nama Winarno. Tujuannya adalah membuat seolah-olah namanya memang memiliki marga Oey. 

Nama 'Oey' merupakan plesetan dari 'Wi', suku kata pertama pada nama Winarno.

Dulu, saya sering menyesap Es Kopi Indochina khas Kopitiam Oey di gerainya yang tergabung dengan Teater Salihara. Hingga pada suatu hari, teman saya mengunggah fotonya di mitra Kopi Oey di Depok, tepatnya di Fave Hotel Margonda. Saya tertarik untuk mencobanya. Kesan pertama kali yang saya dapatkan adalah nyaman dan privat. Kopi Oey Fave Hotel bukanlah kedai kopi yang padat oleh pengunjung, jadi saya merasa betah di sini. 

Pilihan aksesori interior vintage di Kopi Oey Fave Hotel Margonda. | Biblical Journal
Pemilihan furnitur dan mural bernuansa nostalgia di dinding Kopi Oey Fave Hotel Margonda. | Biblical Journal

Lukisan bertema Shanghai di dinding Kopi Oey Fave Hotel Margonda. | Biblical Journal

Interiornya cukup menarik dan sangat khas. Konon, Bondan Winarno terjun langsung dalam desain interior. Desainnya vintage dengan komposisi warna kontras antara dinding dan aksesori interiornya. Terdapat mural bernuansa nostalgia dan lukisan bertema Shanghai di beberapa bagian dindingnya. Pemilihan furnitur juga sama seperti kedai Kopi Oey lainnya, membuat pengunjung dengan mudah mempersepsikan citra Kopi Oey di benaknya.

Kopi dengan Vietnam dripping, menu favorit saya di Kopi Oey Fave Hotel Margonda. | Biblical Journal

Seperti biasa, saya memesan Es Kopi Indochina yang bagi saya tiada dua, kecuali Es Kopi Vietnam yang saya coba langsung di negeri asalnya. Kopi Indochina yang disajikan di sini berhasil menutupi susu kental manis yang biasanya terlalu manis. Sangat jelas proporsi rasa antara kopi dan susunya.

Karena sangat lapar, saya merasa perlu untuk memesan makanan berat. Saya memesan Spaghetti Ayam Pedas. Awalnya saya cukup menganggap remeh makanan yang disajikan di sebuah kedai kopi, begitu pun dengan makanan yang ada di Kopi Oey Fave Hotel Margonda. Setelah pesanan saya datang, tidak ada yang istimewa dari presentasinya. Setelah saya coba, saya jatuh cinta dengan rasanya. 

Spaghetti Ayam Pedas khas Kopi Oey Fave Hotel Margonda. | Biblical Journal

Spaghetti ini tidak menggunakan terlalu banyak bumbu, seperti aglio olio, tapi versi fusion. Ada sauteed onion dan keju parmesan di atasnya. Yang membuat saya jatuh cinta adalah pedasnya! Banyak cabai rawit yang menghiasi menu ini. Ketika mengunyah pasta, bawang bombay, keju parmesan, dan cabai rawit secara bersamaan, rasanya berpadu dengan harmonis. Saya sangat puas dengan makanannya.

Bakmi Jawa Kopi Oey Fave Hotel Margonda yang mirip dengan rasa Bakmi Pak Pele yang ada di Jogja. | Biblical Journal

Menu lain yang saya coba adalah Mie Rebus Jawa. Mie datang dalam porsi cukup besar. Rasanya hampir mirip dengan Bakmi Jawa Pak Pele yang ada di Alun-Alun Utara Jogjakarta. Saya menikmatinya hingga habis. Karena dicampur dengan sayur, menu ini cukup mengenyangkan.

Saya pastikan saya akan kembali lagi ke Kopi Oey Fave Hotel Margonda untuk menulis atau sekadar bertemu kawan. 

___

Kopi Oey Fave Hotel Margonda

Jl. Margonda Raya No.166, Kemiri Muka, Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424
Ph: +6221 29301400

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.