KENDURI TUJUH BULANAN

06.41

"Tiga puluh Juli saya pilih sebagai tanggal untuk tujuh bulanan."

Sumber: pinterest.com

Esok hari, 31 Juli tepatnya, Bulan Juli akan habis. Sudah genap tujuh bulan 2016 berlalu. Perjalanan dari awal tahun hingga pertengahan ini begitu cepat, detiknya sama sekali tidak terasa. Kendati demikian, kelokannya sangat terjal.

Tahun ini dimulai dengan nafas dan gerak tubuh yang biasa saja. Bekerja, pulang kerja, dan seruput kopi di tengah kerja. Warnanya semacam hitam putih dengan sedikit corak warna. Memasuki bulan ketiga, sebuah kedipan mata membuat warna harinya berubah sedikit. Ada yang saya tinggalkan di belakang. Saya ingin membawa diri ke dalam pusaran baru, mencari warna yang lain. Ternyata saya tak terlalu siap hidup di warna yang lain. Tertinggallah warna kedua.

Lokasi: Water Castle Cafe, Taman Sari, Yogyakarta

Ada yang meninggalkan, ada pula yang ditinggalkan. 


"...semua menunggu giliran."


Bulan keempat, keduanya terjadi bersamaan. Lalu saya hilang di tengah warna yang tidak berwarna. Jadwal harian kemudian berubah menjadi tidur, bangun tidur, lalu seruput kopi di tengah bangun dan tidur. Mungkin Dia tahu saya butuh istirahat. Padahal, bekerja juga tidak se-melelahkan itu. Tapi ya sudah, ikuti saja. Mengikuti kata pepatah, ini hanya roda yang sedang di bawah. Terima kasih banyak untuk siapapun yang pertama kali melontarkan pepatah ini.

Siklus ini tidak akan lengkap dengan sesuatu yang tiba-tiba datang. Sama dengan yang saya alami. Si tiba-tiba tidak datang dengan cara yang mengejutkanmu. Kedatangannya saru dan menghampirimu tanpa sadar. 

Rendahkan ekspektasimu, karena si tiba-tiba bisa berbentuk apapun yang bisa jadi sesuatu yang tidak kamu inginkan. Percayalah, si tiba-tiba terkadang membawamu ke dunia yang tak disangka. Kamu yang akan menggores warna baru. 

Saat itu, orbit di sekeliling saya menarik dan mendorong saya untuk menjadi ringan dan ikut dengan putaran roda. Menurut mereka, semakin dilawan, semakin berat rodanya untuk berputar kembali. Alih-alih berputar, ia akan bertahan di bawah.

Lokasi: Pulau Harapan, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta

Semua Bisa Dipelajari

"...dari roda yang berputar, saya belajar."


Tidak ada yang tidak bisa dipelajari. Tapi, kamu bisa memilih mana yang mau kamu pelajari. Tidak perlu mahir semua, tahu sebagian juga tidak apa-apa.

Dari titik nol, saat roda berhenti, kamu bisa belajar bahwa ada yang lupa kamu sapa, ada yang lupa kamu sentuh. Bisa jadi kamu lupa dengan dirimu sendiri. Ia bisa protes. Hati-hati, protesnya kerap didukung oleh alam semesta. 

Saya juga sedikit belajar dari sini. Belajar untuk tidak gegabah untuk mengambil keputusan. Bahwa sebuah keputusan akan diiringi dengan untung rugi dan risiko lainnya adalah betul adanya. Saya juga belajar untuk lebih cepat beradaptasi dengan persona baru yang kadang dan tidak selamanya bersahabat.

Setelah mencicipi beberapa tipe gaya hidup, saya juga belajar bahwa pada akhirnya, saya cuma butuh rumah dan kasur untuk pulang. Kecenderungan saya yang selalu ingin terlihat tidak begitu berlaku lagi. Kini, mencari arti keberadaan saya di dunia dari dalam diri lebih berkesan ketimbang pandangan orang lain yang sewaktu-waktu bisa kecewa karena saya tak terlihat sesuai dengan apa yang mereka anggap baik.

Lebih jauh lagi, kata 'sesuai', menurut saya, hanya bisa diberikan oleh diri sendiri kepada diri sendiri.

Lokasi: Blue Lagoon, Yogyakarta.
In Frane: @muhamadamrie

Kenduri, Meminta Berkat untuk Berjalan Kembali

Seperti yang mereka rayakan ketika hamil tujuh bulanan, momen kehamilan akan dirayakan dalam sebuah kenduri. Ia didoakan dalam berbagai rentetan ritual dengan makna doa meminta berkat agar bayinya lahir dengan selamat.

Saya juga ingin meminta berkat dalam kenduri tujuh bulanan. Berdoa bersama kalian dalam sebuah kenduri tujuh bulanan 2016. 

Di 2016 yang menuju habis, saya begitu berharap untuk semakin banyak belajar. Saya ingin dibekali dengan banyak berkat yang membuat saya kaya. Lalu saya ingin juga dibekali dengan keahlian bersyukur. Bagaimana tidak, peristiwa yang saya anggap sebagai petaka adalah akibat dari ketidakmampuan saya untuk merasa cukup. Akhirnya saya dicerahkan oleh rasanya menjadi miskin dan kering --dalam berbagai interpretasi. 

Kira-kira begitulah kenduri saya yang berisi harapan-harapan saya. Masih banyak doa dan berkat yang saya harapkan. Namun begitu, kenduri ini harus selesai sebelum tengah malam. 

Terima kasih sudah datang menjadi tamu undangan Kenduri Tujuh Bulanan ini. Silakan berdoa dan mendoakan untuk kebaikan yang lain. Kita tidak tahu doa siapa yang akan terjawab, kan?

Sebelum beranjak, dengarkanlah barang sebentar lagu favorit saya saat ini dalam senang dan nestapa.

Salam.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.