[REVIEW] IBUK by Iwan Setyawan


"Kok tega ya, Ni. Si Bayek iku cilik. Kok ya masih dipukulin. Atine nang endi?" Ibuk terisak-isak.

Source: goodreads


Sebuah penggalan dari novel karya Iwan Setiawan yang berjudul Ibuk. 

Ibuk, begitu bayek memanggil wanita nomor satu dalam hidupnya. 

Sebuah novel, sebuah karya yang menawarkan perspektif baru dalam melihat seorang wanita kuat yang melahirkan kita. Ibuk, dalam novel ini, tidak diglorifikasi secara berlebihan. Sosok Ibuk diceritakan sebagaimana adanya. Kesederhanaan dalam bertutur ini justru membuat mata tak dapat terpejam sebelum menyelesaikannya hingga penggalan kata terakhir.

Saya berniat untuk membaca buku ini sedikit demi sedikit, tidak ingin terburu-buru lantaran tidak ingin kisah ini cepat selesai. Namun, buku ini habis dalam beberapa jam. 

Dilihat melalui perspektif seorang anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga sederhana, Ibuk menjadi idola baru. Seorang wanita kuat dan bersahaja, tidak ingin berhutang untuk kehidupan. Ibuk tidak ingin berhutang kepada siapapun dalam bentuk uang, juga tidak ingin berhutang kepada kehidupan. Ibuk ingin menikmati sakit dan senang dalam hidupnya. Jika gagal atau belum bisa memenuhi rengekan anak-anaknya yang meminta sepatu, Ibuk minta maaf. Jika harus membuat anaknya menunggu untuk melihat rapor semesternya, Ibuk meminta anaknya bersabar. Dalam buku ini, Ibuk tidak pernah berbohong. Dalam deskripsi Bayek, Ibuk selalu mengajarkan anak-anaknya untuk jadi kuat.

Kembali lagi, saya harus katakan buku ini terlalu jujur. Saya beberapa kali menitikka air mata, sedih dan bahagia karena termotivasi. Siapa yang sangka Bayek akan pergi ke New York? Hidupnya dulu hanya anak kecil yang tinggal di rumah kecil dengan lubang di atap yang kerap kali bocor kala hujan.

Buku ini menawarkan sudut pandang lain, yang jauh berbeda, dari buku sebelumnya, yakni 9 Summer 10 Autumn. Kisah hidup yang sama, penokohan yang sama, namun tokoh utama pasif, alias yang diceritakan. Tidak perlu deskripsi macam-macam tentang Ibuk, karena visual masing-masing pembaca akan terpancing untuk membuat versinya sendiri. Ibuk yang jago memasak.

Kisah Bayek di New York dikupas lebih dalam di buku ini. Di mana ia tinggal, hinggal tragedi 9/11 yang saya yakin sebelumnya hanya akan saya dapatkan di buku teori Hubungan Internasional. 

Impian seorang anak untuk membahagiakan keluarganya. Kecintaan seorang anak kepada kedua orang tuanya, Ibuk dan Bapak. Seorang anak dari kaki gunung Panderman yang kemudian berhasil terbang ke kota Big Apple. Lengkap sudah orgasme visual saya. Lengkap sudah tekad saya untuk memberikan hati kepada Ibuk dan Bapak yang tulangnya digerakkan hanya untuk anak-anaknya, yang keringatnya menetes hanya untuk memberi hidup,yang jiwanya tidak pernah mati untuk menghidupkan cinta di dalam istana kecil.


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.