Positivisme, Postmodernisme, dan Agnes Monica

23.45
Judul di atas mungkin membuat beberapa orang mengernyitkan dahi. Apa hubungannya kedua epistemologi ilmu pengetahuan dengan seorang penyanyi? Well, saya juga mendapatkan ide ini secara tiba-tiba saat sedang menyeruput kopi di warung kopi dekat rumah. Sedikit nyentrik tapi baiklah, let’s begin!



Agnes Monica dan Positivisme

‘Menurut saya, karir di bidang musik pencapaian tertingginya adalah ketika saya bisa berkarir di Hollywood dan mendapatkan Grammy pertama saya’

Begitu kira-kira yang dikatakan oleh seorang diva Indonesia, Agnes Monica pada wawancaranya dengan sebuah media beberapa tahun lalu. Pernyataan tersebut terlihat sangat positivis menurut saya karena adanya penentuan standar modern pada suatu hal, dalam hal ini karir menyanyinya. Menurut Agnes Monica, karir menyanyi mamiliki standar pencapaian tertinggi, yakni berkarir di Hollywood. Lalu standar prestasi, yang lagi-lagi juga tertinggi, yakni Grammy Award. Bisa diterima.

Secara implisit kita juga dapat melihat standar penampilan Agnes Monica yang memiliki ciri khas belakangan ini; mini pants, tank top, atau mini dress yang kadang diberi sentuhan fringe pada beberapa kesempatan. Beberapa orang menganggap dia begitu kebarat-baratan, terlalu berkiblat pada Amerika Serikat, sehingga tidak terlihat unsur ke-Indonesiaan pada setiap penampilan yang dia tunjukkan di depan publik. Ini juga merupakan sebuah standar. Barangkali, Agnes menganggap bahwa standar seorang penampil di atas pentas haruslah seperti itu. Well, lagi-lagi kita melihat statement action dari diva ini yang sangat positivis. Dia menentukan standar modern yang (diharuskan) bersifat universal.



Tidak ada yang perlu dikritik, karena saya hanya ingin membedah apa yang selama ini dikatakan, dikenakan, dan dilakukan oleh Agnes Monica. Saya tidak melihat ada yang salah, karena sah-sah saja jika dia ingin memuaskan mata fans-fansnya dengan pakaian-pakaian yang menurutnya bagus untuk ditampilkan di depan publik.

Postmodernisme dan kritik terhadap penampilan Agnes Monica

Pada saat saya sedang menonton konser Agnes Monica di sebuah stasiun TV swasta beberapa waktu lalu, di TimeLine twitter saya ada sebuah akun yang meretweet sebuah tweet yang isinya ‘dress like American, dance like America, and you go international’. Kalimatnya mungkin tidak seperti itu, tapi maknanya kurang lebih sama.

Tweet ini mengkritik Agnes Monica yang kebarat-baratan dalam berpakaian. Agnes Monica dinilai tidak memiliki unsur ke-Indonesiaan dalam penampilannya. Kemudian, kritik ini dihubungkan dengan target go International sang diva. Kritik ini secara eksplisit mengedepankan epistemologi lain, yakni postmodernisme. Asumsi postmodernisme yang diambil di sini adalah ketidaksetujuan akan standar modern yang ditetapkan pada penampilan Agnes Monica. Para pengkritik menganggap bahwa sebuah penampilan penyanyi Indonesia harus menyisipkan unsur ke-Indonesiaan pada penampilannya. Menurut postmo dalam konteks ini, sebuah penampilan penyanyi Indonesia tidak harus selalu berkiblat pada apa yang kita sebut budaya barat, dalam hal ini wardrobe Agnes Monica.

Dialektika: Konklusi

Tidak mudah memang jika kita membicarakan tentang sebuah epistemologi. Akan selalu ada dialektika di dalamnya, karena satu sama lain memiliki akar asumsi yang berbeda dan beragam. Dalam konteks penampilan Agnes Monica, kedua epistemologi memiliki pendapat yang saling berseberangan, maka sulit untuk disatukan. Analisa saya pada konteks ini merupakan sebuah manifestasi dari epistemologi postmodernisme, namun berbeda dengan asumsi dasar dari analisa di atas. Saya mengambil analisa posmodernisme dalam hal menerima semua pendapat, melakukan pembedahan untuk sebuah pengetahuan baru, mengetahui sisi lain dari sebuah fenomena, tanpa bermaksud berpihak kepada keduanya. Mungkin dalam tulisan berikutnya akan saya masukkan beberapa epistemologi (atau begi beberapa orang merupakan perspektif) lainnya seperti critical, feminism, atau green theory.

Semoga membantu sedikit dalam memahami kedua epistemologi ya. See you later! 

Pic: kapanlagi.com

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.