Stand Up For Love

01.42
Back Song : ‘Stand Up For Love’ by Destiny’s Child.

Estimasi waktu membaca: 7-9 menit.

Halo!

Selamat datang kembali ke dunia saya. Dunia curhat yang gak akan pernah habis.
Oke. Saya akan cerita tentang hal yang menurut saya cukup gila jika klasifikasinya masuk ke kelas respon terhadap sesuatu.

Kalian pasti tau lagu ‘Stand Up For Love’ dari Destinys’s Child kan?
Satu hari saya dalam perjalanan yang lumayan panjang, Depok-Kalibata dengan angkutan umum. Saya duduk di depan, dan untuk membunuh bosan, saya dengarkan lagu-lagu yang ada di telepon seluler saya, tanpa sadar, lagu ini yang terpilih.

Biasa saja. Saya hampir hafal lirik penuh satu lagu. Tapi ternyata tidak seperti itu. Dada saya seperti membuncah. Mata saya ber-air! Memaknainya dalam-dalam membuat saya sakit. Pasti ada dari kalian yang bilang ‘lo berlebihan banget sih yan’ atau ‘lo gila? Itu cuma lagu’. Ya. Katakan itu adalah hanya sebuah lagu.

Interpretasi otak saya yang tumbuh tidak wajar ini, lagu ‘Stand Up For Love’ ini bercerita tentang bagaimana semangat seseorang untuk melakukan perubahan, khususnya untuk anak-anak. Bahwa dia tidak bisa menutup mata, keputus-asaan dalam hidup menjadi penyakit yang paling mematikan.

‘There are times, I find it hard to sleep at night. We are living through such troubled times, and there’s a child that reaches out for someone to hold…. And how can I pretend that I don’t know what’s going on, when every second of every minute another soul is gone.'

Anak-anak kehilangan mimpi, sama sekali tak terbayang motivasi. Tapi banyang yang tutup mata, yang sembunyi tangan. Physically, mereka lihat dengan jelas bahwa ini ada, ini nyata. Tapi di dalam hati, mereka terbagi dua; ada yang melihat tapi berbohong. Berbohong bahwa ini ada. Ada juga yang sama sekali tidak melihat dan tidak ingin tau bahwa hal seperti ini, ada.

Hasilnya, banyak yang terlupakan. Kasih yang diberikan Tuhan (atau universe, jika ada yang tidak percaya), sia-sia. Banyak dari mereka yang terlupakan, terjatuh dan terseok-seok mencari hidup. Banyak anak-anak yang tidak tau rasanya punya buku sekolah, memakai seragam sekolah, melakukan upacara dan menghormati simbol negaranya. Simple? Yes. Easy? No. Sesederhana itu yang mereka butuhkan, yang kita buang sehari-hari. Semudah itu kita dapatkan, disediakan orang tua, tapi seringkali kita lupa.

‘And I believe, that in my life I will see an end to hopelessness of giving up of suffering.’
‘If we all stand, together this one time, then no one will get left behind, standing up for life, standing up for life, standing up, for love.’

Semangat yang masih ada. Kepercayaan kepada diri sendiri bahwa masih ada yang peduli, bahwa masih ada yang ingin membantu, menjadi satu barisan yang kuat untuk membunuh penyakit-penyakit putus asa yang mengakar.

‘And it all starts right here, and it starts right now, one person stand up there, and the rest will follow. For all the forgotten, for all the unloved…..’
Bagaimana?

Semua butuh trigger. Semua butuh satu pioneer. Harus ad yang memulai. Siapa? Kita sendiri. Salah satunya saya, salah satunya kalian, dan semua jadi satu. Butuh efek domino yang gigantis untuk membuat perubahan. Dengan memulai semuanya lebih dini dan dari diri sendiri, semua akan jadi cepat. Atau, lebih cepat.
Bagaimana?

Lakukan langkah yang kecil. Dari diri saya, semua bisa diawali dengan buku. Buku adalah lembaran yang punya nilai investasi tinggi. Dengan memberikan buku-buku yang tidak kita pakai ke anak-anak yang membutuhkan, adalah salah satu cara yang kongkret.
Tapi bukan itu saja. Semua orang punya cita-cita, punya rencana jangka panjang. Apa cita-cita kalian? Guru? Diplomat? Penulis buku? Aktivis? Presenter? Akuntan? Apa?

Tidak ada ilmu yang tidak bisa membantu anak-anak yang membutuhkan. Jika tidak bisa memberi bantuan secara fisik dan jasa, jadilah inspirasi. Inspirasi bagi mereka untuk sukses. Inspirasi mereka untuk keluar dari putus asa. Untuk sembuh dari penyakit miskin cita-cita.Saya yakin, kita bisa 

2 komentar:

  1. tapi sayangnya kesadaran akan hal itu masih sangat sedikit, ya? Memang harapan adalah bahan bakar tebaik bagi setiap manusia..... :)

    BalasHapus
  2. yes! harapan itu satu-satunya alat tempur saat semuanya habis. Dan ini adalah salah satu langkah mikro saya untuk kembali menumbuhkan harapan :)

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.