... Isi judul sendiri

02.01
Belakangan ini saya sensitif (banget) sama omongan orang tentang saya. Atau, kalau gak ada yang ngomongin, ya, cara mereka ngeliat saya dari atas ke bawah itu –more or less, kayak nelanjangin. Come on, what’s wrong with me?

Jadi ceritanya saking kelewat penuh sama ‘what’s wrong with me?’, saya cerita ke beberapa orang. They are @destyaw dan @bobskeyy. Pertanyaannya ya yang itu tadi. ‘Kenapa sih gue? Kayanya banyak yang gasuka sama gue deh. Dan kayaknya, the way I dress is the core of the case. Should I change it? My appearance and attitude?’. Jawaban meraka kurang lebih sama, though dengan redaksional yang sedikit banyak berbeda.

@destyaw jawabnya gini, ‘loh kenapa? Jangan mikir gitu. Bisa-bisa jadi negative thinking terus sama orang. Mereka belum kenal kali, jadi langsung nilai’.
@bobskeyy jawabnya gini, ‘change what? Lo ya kaya gitu kan? Mau gimana lagi? Yang ngebedain lo sama yang lain kan ya ke-khasan lo itu.’

And not-so-long after that convo, saya baruuuuu aja sadar. IYA JUGA YA. I’ve been so tired to build this image, to learn how to dress truthfully. Terus kenapa harus ribet sama omongan orang? Toh, yang tau who I really am, is me, bukan mereka. One sentence from @bobskeyy is, ‘feel sorry to them. They’re just… plain and boring’. Dan hasilnya……………. Mereka berdua berhasil bikin sanity dan self esteem saya balik.
Emeang agak capek sih ya, soalnya saya banyak berada di lingkungan di mana orang-orang sangat memiliki keseragaman. Punya satu main idea yang sama. Ada aturan gak tertulis yang turun temurun bikin mereka (dan saya) merasa harus ikut dalam stereotype itu.

Saya gak masalah dengan itu (sebenarnya). Tapi kalau saya dipaksa ikut, ya, ribet juga sih. I don’t feel like I have the same way. Bukan mau sok anti mainstream, tapi ekspresi manusia, kan, mutlak punya divisi yang gak seragam. Intoinya, kalau saya begini karena meniru entah siapa, ya saya ini yang begini. Kalau mereka juga harus begitu karena menurut mereka itu adalah hal yang prinsipil, silakan. Tapi jangan paksa saya begitu juga. Jangan paksa saya jadi seperti kalian. Kecuali, kalau saya mau.

Fiuh. Maaf ya curhat begini. Kali ini gak ada pesan apapun yang intentionally ingin saya deliver. Cuma mau cerita aja :D Enjoy 

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.