Healing The World? You Do :)

02.07
Kamis malam, 20:32

“….Dengan hadiah perdamaian yang saya terima ini, saya akan mencoba membuat rumah untuk banyak orang yang tidak memiliki rumah. Karena saya percaya kasih itu dimulai di rumah. Dan jika kita bisa membangun rumah untuk kaum miskin, saya rasa semakin banyak kasih yang tersebar. Kita akan menjadi kabar baik bagi kaum miskin dengan adanya cinta yang memahami ini untuk perdamaian. Orang miskin di dalam keluarga kita dulu, lalu di negara kita, lalu di seluruh dunia.”
-Bunda Teresa, Pidato penerimaan hadiah nobel perdamaian, Oslo, Norwegia, 11Desember 1979


Baru saja saya baca tulisan tersebut dalam buku mini Pidato-pidato yang Mengubah Dunia. Dalam penggalan pidato tersebut, saya merasa terpanggil untuk berpikir. Sebenarnya, malu untuk mengakuinya bahwa saya terlalu banyak menulis ini-itu yang bersifat sangat individual. Saya seperti tersadar bahwa hidup bukan melulu tentang passion, tentang cinta, tentang uang, tentang rasa sakit atau penderitaan pribadi, juga tidak melulu tentang kenangan. Ada bagian lain dari kehidupan yang luput dari jangkauan mata, hati dan pikiran saya (mungkin juga kamu yang membaca tulisan ini) : orang miskin yang butuh pertolongan kita.

Oke, orang miskin terdengar terlalu kapitalis disini. Lagipula, saya juga bukan orang kaya. Katakanlah, kata ‘miskin’ kita ganti dengan saudara. Kita bersaudara, ‘kan? Jika tidak setuju, anggaplah kita sedang belajar sosiologi.

Sensitively, saya merasa sangat (lagi-lagi) malu dengan isi kutipan pidato di atas. Saya ini selalu berpikir bahwa saya adalah orang paling tidak beruntung di dunia. Saat saya tidak bisa pergi bersama sahabat tercinta ke gerai makanan yang sedang hype saat ini, atau saat saya ngambek karena orang tua belum bisa meluluskan keinginan saya yang menginginkan gadget terbaru. Kadang, alasan saya karena butuh. Lalu dengan perantara cuplikan pidato di atas, saya me-recheck kembali ‘kebutuhan-kebutuhan’ tersebut.

Yang terbayang adalah anak-anak yang harus mencari uang sendiri untuk membiayai sekolah (Apakah mereka benar-benar bisa sekolah jika makan saja tidak tentu?), juga mereka yang tidak bisa merasakan pelayanan yang memadai saat sedang sakit (hanya mengandalkan obat warung yang spekulatif, padalah mereka tidak tahu sedang sakit apa). Atau, yang harus tidur di gerobak setiap malam, tidak punya rumah. Baru sadar, sifat serakah memang naluri alami manusia.

Mereka tidak menyalahkan siapapun. Mereka tidak menyalahkan pemerintah seperti demonstrasi yang dilakukan mahasiswa (yang katanya pintar) supaya aspirasinya didengar. Dalam satu tayangan berita di televisi, mereka hanya bisa bilang,’Kita ini siapa sih mbak, mau ngadu juga sama siapa. Lha yang kita pilih jadi wakil saja tidak mewakili. Buat apa?’

Sampai sekarang, saya enggak tahu apa yang bisa saya lakukan untuk mereka. Saya ingin belajar, ingin pintar, ingin kaya harta dan nurani, supaya bisa membantu merek. Seperti Beyonce dan Jay-Z yang baru dikaruniai anak, Blue Ivy Carter. Saking banyak kado yang mereka terima, mereka menyumbangkan kado-kado tersebut untuk anak-anak yang kurang mampu. Tapi sekarang, saya belum melakukan apa-apa. Beruntung, teman-teman saya di KOMPAS MuDa batch 3 (@kompasmuda) telah memulai langkah pertama dengan mambangun perpustakaan mini di daerah Bekasi. Saya bangga menjadi bagian dari mereka.

Semua pasti punya cita-cita, ‘kan? Saya punya banyak cita-cita. Salah satunya, membangun perpustakaan untuk meningkatkan minat baca masyarakat kita. Belum terwujud, tapi (mudah-mudahan dan saya percaya) akan terwujud. Cita-cita ini sudah terpikir sejak saya duduk di bangku kelas 6 SD, dan semakin kuat berkat penggalan pidato Bunda Teresa di atas. Saya ingin seperti Bunda Teresa, seperti Beyonce dan Jay-Z, seperti teman-teman saya di KOMPAS MuDa batch 3, dan seperti orang lain yang telah beraksi membantu saudara kita di luar sana, walaupun caranya berbeda-beda.
Kamu sudah tahu salah satu cita-cita saya. How about you? Kamu pasti punya kan? Jangan lupa wujudkan dan berbagi, folks. You won’t regret everything you’ve shared to people who need.



1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.