Say bye to the flow. Create our own flow, live it till die.

23.39
Jumat malam di bulan Juli. Malam yang cukup meninspirasi diri saya secara personal. Saya mendengar satu siaran radio yang pada saat itu membicarakan tentang apa yang telah dilakukan pada setengah perjalanan di 2011 ini. Sebenarnya, kalimat itu bisa dijadikan satu kalimat tanya untuk semua orang. Sudahkah melakukan suatu perubahan dalam hidup selama 6 bulan di 2011?


Obrolan berjalan lancar antara penyiar dan narasumber. Satu kalimat yang menggugah adalah ‘Don’t follow the flow, but make your own flow’. Sejenak, saya berhenti malakukan apapun dan berpikir tentang apa yang sudah saya lakukan selama 6 bulan ini. Bagaimana dengan resolusi saya? Sudahkah tercapai? Apa saja yang ingin saya capai selama 2011 ini? Detik berikutnya saya memutuskan untuk mencatat apa yang sudah saya capai dan ingin dicapai untuk selanjutnya. Ternyata, yang saya capai tidak banyak. Ya, mungkin ini adalah refleksi dari sifat manusia yang serakah dan tidak pernah bersyukur. Tapi, memang sedikit. Tersadar dalam benak saya, sudah terlalu banyak hal semu yang saya jalani. Terkubur dalam dunia gemerlap yang tidak bermakna. Seperti fatamorgana, palsu. Terlihat menyegarkan, tapi hampa saat dihampiri. Saya merasa diri saya adalah seorang social climber. Berusaha untuk mengikuti gaya hidup gemerlap. Padahal, kenyataannya, saya tak sanggup. Saya kehilangan sesuatu, arah cita-cita dan impian saya.


Kembali menulis apa yang ingin saya capai, ternyata banyak yang harus dilakukan. Memang terlalu normatif rasanya jika ada kata ‘harus’,tapi inilah ‘hutang’ yang harus saya lunasi. Goal yang tertunda. Saya malu. Meenyesal, mungkin. Enggan berbasa-basi dengan diri saya dengan mengatakan ‘I will be Ok’. In fact, I’m not okay. Saya tidak ingin menjadi seorang tokoh utama dalam film La Vie en Rose yang malang. Saya ingin menjadi Christina Aguilera dalam sinema Burlesque. Bekerja keras mencari celah demi impian. Sekarang agenda yang tersisa hanya satu, mambangun sisa sisa tembok pertahanan yang hancur demi impian. Membuat arus saya sendiri, dan menyebarkan sisa aura positif ke semua orang. Haruskah? Ya. Karena saya ingin menjadi sesuatu yang berharga dalam hidup diri saya sendiri, yang membuat orang lain juga ingin menebar aura positif di dunia. I’m creating my own flow. So you??

1 komentar:

  1. I really like this one. Going with the flow is too easy, we become oblivious of whats going on. thanks!

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.