Dokter dan Impian

04.41
Sudah jam 2 pagi.


Mataku masih terbuka lebar. Juga mata ibu saya. Jarum jam sudah menuju 5 menit setelahnya ketika kami memulai sebuah percakapan sebelum tidur.


“Bagaimana kamu meneruskan hidupmu?”

“Aku ingin menjadi seorang dokter.”

“Mulailah menghasilkan uang.”

“Aku masih punya mimpi, bu.”

“Jadilah realistis. Saat ini, bukan mimpi yang dibutuhkan.”

“Lalu bagaimana dengan dokternya,bu?”

“Kau boleh mengejar mimpimu. Tapi kumpulkan pundi-pundi sejak dini.”

...


Aku terdiam. Mencoba berpikir sejernih mungkin. Kalimat ‘kau boleh mengejar mimpimu’ seakan hanya hiburan malam. Bahkan Gibran terdengar mengkhianati Sang Nabi-nya sendiri jika mendengar ini. Tapi hormat kepada orang tua adalah segalanya. Ada seribu cabang dalam otakku. Benarkah berpikir dapat merangsang kecerdasan? Kurasa berpikir lebih membuat otakku tersumbat. Mimpiku hilang,pergi jauh ke rumah tua di Antartika. Jauh tak tersentuh. Tapi mimpi ini mutlak. Takkan terlepas. Mungkin aku harus berenang ke Antartika, atau terbang dengan sayap ilusi ke sana. Tapi kuingat, seorang James Allen pernah berkata ‘Pencapaian terbesar pada mulanya dan selama beberapa waktu adalah sebuah mimpi. Pohon ek tidur dalam bijinya; burung menunggu dalam telurnya; malaikat yang terjaga pun mulai bergerak. Impian adalah persemaian kenyataan’.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.